Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

This Theme From:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Senin, 01 Maret 2010

Bekal Kubur

Bekal Kubur


Ada dialog yang cukup menggugah dan terjadi pada masa 'Amr Ibn Al-'Ash.
Di siang hari, saat sedang istirahat, datanglah putra 'Amr Ibn Al-'Ash
berkata kepadanya, "Wahai Ayahku, terangkanlah kepadaku tentang
kematian. Sebab, engkaulah orang yang paling tepat bagiku untuk
menerangkan masalah itu." 'Amru Ibn Al-'Ash merasa senang bercampur
takut. Senang, karena anaknya mampu menjadikan dirinya bukan hanya
sekedar ayah, tapi juga tempat bertanya dan berkeluh kesah. Takut,
karena pertanyaan yang diajukan anaknya adalah pertanyaan yang cukup
berat untuk dijelaskan. Sebab, tak ada seorang pun yang berani
mengilustrasikan beratnya kematian itu. Dengan santai dan penuh
kehati-hatian, 'Amr Ibn Al-'Ash menjawab, "Wahai anakku, Demi Allah,
sungguh kematian itu seperti gunung-gunung yang ada di dunia ini sedang
diletakkan di dadaku dan aku bernapas seperti bernapas dari lubang
jarum." Mendengar jawaban 'Amr Ibn Al-Ash, sepertinya kematian itu
cukup berat sekali. Seakan-akan tak sebanding dengan kehidupan yang
dijalani di dunia ini. Padahal, kehidupan dan kematian adalah pasangan
yang ditakdirkan oleh Allah SWT. Namun, kematian yang dikatakan 'Amr
Ibn Al-'Ash itu adalah kondisi umum yang akan terjadi pada manusia yang
memiliki bekal kematian. Dan, jawaban itu bersumber dari Al-Qur'an dan
Hadits Rasulullah. Di dalam surat Al-Hijr ayat 84, Allah SWT berfirman,
"Maka tak dapat menolong mereka apa yang mereka usahakan." Memahami
firman Allah tersebut, akan semakin membuat kita kian goyah dan kian
takut menghadapi kematian yang akan dialami nanti dan terasa cukup
berat sekali. Karena apa yang diusahakan di dunia ini akan sia-sia.
Harta banyak yang telah diusahakan tidak mampu membantu. Isteri cantik
yang dibanggakan selama ini tak bisa menolong. Anak yang pintar tak
bisa membantu saat kematian menghampiri. Nyaris kondisi kita seperti
apa yang dikatakan Rasulullah dalam haditsnya. Rasulullah SAW bersabda,
"Tiada lain kondisi mayat di dalam kuburnya kecuali seperti orang
tenggelam yang mencari pertolongan." Maka tepat apa yang dikatakan Abu
Bakar Ash-Shiddiq RA tentang kematian, "Siapa yang masuk kubur tanpa
bekal, seperti halnya melintasi laut tanpa perahu." Hanya kalimat
hauqalah yang bisa kita ucapkan mendengar komentar Umar bin Khattab
tentang kematian. La Haula Wala Quwwata Illa Billah. Lalu, bekal apa
yang harus dicari agar kita bisa bernapas sekalipun seperti bernapas di
lubang jarum? 'Aid Al-Qarni dalam bukunya Wa Ja'at Sakrat Al-Maut bi
Al-Haqq menyatakan paling tidak ada empat hal yang harus dilakukan umat
Muhammad agar memiliki bekal di dalam kubur. Pertama, sering menziarahi
kubur. Dengan ziarah kubur, akan mengingatkan kita bahwa suatu saat
kita akan merasakan seperti apa yang dirasakan si mayat di dalam kubur.
Dari salam yang diucapkan penziarah hingga pertanyaan yang diajukan
malaikat di dalam kubur. Dengan ziarah kubur, kita akan merenungkan
bahwa kematian telah memisahkan kita dari segalanya yang ada di dunia
ini dan mencampakkan kita ke dalam lubang yang gelap gulita. Tak ada
lagi isteri, anak, harta, dan pakaian yang dibanggakan. Kematian
menghapuskan semua itu dan memasukkan kita ke dalam lubang yang
mengerikan. Kedua, menziarahi orang shaleh. Dengan seringnya
mengunjungi orang shaleh dan mendengarkan nasehatnya, akan membuat kita
terasa tenang, sekalipun kematian itu berat. Karena bernafas bagaikan
dari lubang jarum yang dikatakan 'Amr Ibn Al-'Ash adalah gambaran umat
Muhammad yang memiliki bekal kematian. Orang shaleh yang paling baik
adalah orang-orang yang mengetauhi ilmu syari'at serta mendalami
Al-Qur'an dan Hadits Rasul. Karena mereka hidup selalu diiringi dengan
hujjah yang jelas dan memiliki firasat yang tajam dan akurat sebagai
rahmat dan anugerah dari Allah untuk mereka. Bahkan Rasullullah sangat
menganjurkan untuk berteman dengan orang shaleh yang berilmu dan
mengamalkan ilmunya. Rasulullah SAW bersabda, "Bertemanlah kalian
dengan ulama dan dengarkanlah perkataan hukama' (ahli hikmah). Karena
Allah SWT menghidupkan hati yang mati dengan cahaya hikmah sebagaimana
menghidupkan tanah gersang dengan hujan." Bukan hanya itu, Allah SWT
juga berfirman tentang pentingnya berteman dengan orang shaleh dalam
surat Az-Zukhruf ayat 67, "Teman-teman akrab pada hari itu sebagian
menjadi musuh bagi sebagian lain kecuali orang-orang yang bertakwa."
Ketiga, membaca Al-Qur'an. Al-Qur'an adalah kalam Allah SWT yang
terdapat di dalamnya penjelasan tentang kematian, bekal yang dibawa,
dan kehidupan yang akan dirasakan di dalam kubur. Dengan aktif membaca
Al-Qur'an, seorang muslim menghadapi kematian tidak lagi dalam kondisi
penuh ketakutan. Ia masih mampu bernafas, meskipun seperti kata 'Amr
Ibn Al-'Ash seolah-olah bernafas dari lubang jarum. Karena Rasulullah
SAW menceritakan bahwa orang yang rajin membaca Al-Qur'an akan
mendapatkan syafa'at dari Al-Qur'an itu sendiri. Rasulullah SAW
bersabda, "Bacalah Al-Qur'an, karena sesungguhnya ia akan datang kepada
para pembacanya kelak di hari kiamat dengan membawa syafa'at." Bukan
hanya itu saja, Rasulullah SAW juga mengkategorikan orang yang aktif
membaca Al-Qur'an sebagai umat terbaiknya. Rasulullah SAW berkata,
"Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur'an dan
mengajarkannya." Subhanallah, begitu mulia kedudukan pembaca Al-Qur'an.
Dengan membaca Al-Qur'an, bekal yang dibawa sudah apik, apalagi jika
Al-Qur'an telah tertanam dalam hati seorang hamba, maka ia akan
memberikan pengaruh dan manfaat yang sangat luar biasa bagi hamba
tersebut. Keempat, mengurangi cita-cita yang bersifat dunia. Artinya,
cobalah untuk tidak takluk dengan dunia. Jadikan dunia dan isinya hanya
sebagai kendaraan untuk mendapatkan ridha Allah SWT. Karena dunia
bukanlah tempat terakhir bagi kita. Masih ada tempat pertanggungjawaban
yang melahirkan vonis apakah kita masuk penduduk yang merasakan
nikmatnya jamuan-jamuan surga ataukah kita masuk penduduk yang harus
berdomisili dulu di tempat pembalasan atas perbuatan keji kita di dunia
dulu. Maka Rasulullah SAW selalu menasehati para sahabat dengan
mengatakan, "Hiduplah di dunia ini bagaikan seorang pengembara."
Sehingga, pesan Ibnu Umar layak untuk diingat, "Jika engkau sedang
berada pada hari ini, maka janganlah engkau tunda-tunda sampai hari
esok. Jika engkau sedang berada pada waktu sore, maka janganlah engkau
tunda-tunda hingga pagi hari. Pergunakanlah sehatmu sebelum datang
sakitmu dan pergunakanlah hidupmu sebelum datang matimu." Karena itu,
marilah bertobat dan aktif berbuat baik. Tidaklah ada persiapan diri
untuk menghadapi kematian yang lebih baik kecuali dengan menyegerakan
diri bertobat dan senantiasa memperbaharui tobat dari hari ke hari.
"Setiap yang berjiwa, pasti akan merasakan mati." (QS. Ali Imran :
185). Demikianlah Allah menegaskan tentang keberadaan kematian. Maka
Sabda Rasulullah SAW, "Perbanyaklah olehmu mengingat si pencabut semua
kesenangan." Kematian dikatakan sebagai si pencabut nyawa karena ia
memisahkan seseorang dari apa pun dan siapa pun yang dicintainya dan
akan ditempatkan ke dalam lubang yang gelap gulita. Semoga dengan
bekal-bekal yang dijelaskan di atas, kematian dan gelapnya kubur tidak
lagi menjadi hal yang begitu mengerikan sekali. Aamiin. - 24 Februari
2009

Sumber
: Rahmat Hidayat Nasution
http://kotasantri.com/index.php/pelangi/baca/48 9 September 2009 Sumber
Gambar: http://www.mizan.com/bookimages/m-mengenali_alam_kubur.jpg


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar