Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

This Theme From:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Jumat, 07 Oktober 2011

Mengenal Keberadaan PT Pertamina EP Pangkalan Susu


Rate This
Kompleks Kantor PT Pertamina EP Field Pangkalansusu
Oleh : Freddy Ilhamsyah PA
Sejarah telah mencatat bahwa kegiatan usaha penambangan minyak dan gas di belahan bumi manapun selalu jadi incaran para perusahaan industri migas sejak ratusan tahun lalu. Sebab energi fosil ini tidak hanya memberikan satu macam cairan energi saja kepada manusia, tapi begitu banyak jenis dan ragamnya, seperti minyak mentah (crude oil), condensate dan gas bumi yang kalau diolah di kilang pengolahan akan melahirkan generasi turunannya seperti bensin, premium, premix, avtur, avgas, solar, minyak tanah, minyak diesel, minyak bakar, minyak pelumas, minyak gemuk, aspal, LNG, Elpiji dan berbagai produk petro kimia seperti serat nylon, plastik, cat, racun serangga, pupuk, lilin, sabun, salep, karet sintetis dan sebagainya.
Secara lebih khusus, minyak mentah yang berasal dari lokasi Telaga Said, Kecamatan Sei Lepan, Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara, ratusan tahun yang lampau pernah dipergunakan oleh para pendahulu kita sebagai senjata perang ketika para pejuang Aceh melawan Armada Angkatan Laut Portugis yang dipimpin oleh Laksamana Alfonso D’ Albuquerque dalam pertempuran fisik di perairan Selat Malaka antara Pulau Penang dan Lhokseumawe (Pase).
Armada Portugis yang dilengkapi dengan meriam berbagai ukuran dan senapan dapat dihalau setelah beberapa kapal perang Portugis berhasil ditenggelamkan oleh para pelaut Aceh yang hanya dibekali dengan pedang, rencong dan alat pelontar “bola api” yang pelurunya terbuat dari batu berbalut kain celupan cairan minyak mentah yang konon kabarnya berasal dari kawasan Telaga Said.
Selain catatan sejarah tersebut di atas, di dalam tulisan ini juga dipaparkan sekilas tentang awal masuknya perusahaan perminyakan asing ke wilayah Kabupaten Langkat dan sekilas tentang keberadaan PT Pertamina EP Region Sumatera Field Pangkalan Susu yang wilayah kerja dan hasil produksinya merupakan modal awal lahirnya Pertamina pada tanggal 10 Desember 1957 di Pangkalan Berandan ( eks. kantor Pertamina Unit Pengolahan – I ) yang dulunya di situ berkedudukan kantor induk Pertamina Daerah Sumatera Bagian Utara.
Dari wilayah kerja Pertamina EP Field Pangkalan Susu inilah Pertamina lahir dan dibesarkan dari puing-puing besi tua sisa Perang II hingga menjadi besar seperti Pertamina yang anda kenal saat ini.
Untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas lagi tentang keberadaan Field Pangkalan Susu yang juga merupakan bagian dari wilayah kerja PT Pertamina EP Region Sumatera yang kantor induk berada di Prabumulih, Sumatera Selatan, diharapkan tulisan ini dapat panduan generasi muda Indonesia atau siapa saja yang memerlukannya agar dapat mengetahui sekilas tentang sejarah dan kegiatan pertambangan migas yang berawal dari Lokasi Telaga Said, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Dengan harapan, semoga ada manfaatnya untuk menambah pengetahuan dan perbendaharaan anda mengenai keberadaan Pertamina EP Field Pangkalan Susu dari masa ke masa.
Kegiatan usaha penambangan minyak dan gas bumi di negara kepulauan yang terluas dalam planet bumi ini adalah merupakan salah satu industri yang telah dikembangkan sejak abad ke XIX oleh Aeliko Janszoon Zijlker (penemu pertama minyak bumi yang cukup komersial di Indonesia yang waktu itu masih bernama Nederlandsche Indie), ketika administratur perkebunan tembakau “Deli Mij” itu menemukan cadangan minyak terbesar di Hindia Belanda pada tanggal 15 Juni 1885, yaitu sumur Telaga Tunggal Satu yang kini dikenal sebagai struktur Telaga Said di Desa Telaga Said, Kecamatan Sei Lepan, Kabupaten Langkat Sumatera Utara. Keberhasilan Zijlker di Telaga Said telah mengungguli pendahulunya, Colonel Drake yang lebih dulu melakukan pemburuan minyak bumi di Pulau Jawa, tapi tidak berhasil, sehingga menarik banyak peminat untuk mencari minyak bumi di berbagai daerah di Indonesia, antara lain di Cepu, Jambi, Aceh Timur, Palembang dan Kalimantan Timur yang sampai akhir abad ke – XIX telah beroperasi perusahaan perminyakan di wilayah Hindia Belanda ( kini dikenal sebagai Indonesia ).
Tim dari Pertamina Pusat dan PT Eksindo Telaga Said Darat tinjau lokasi struktur Telaga Said sebelum penandatanganan TAC.
Dalam perkembangan selanjutnya telah terjadi penggabungan beberapa perusahaan minyak, sehingga pada awal abad ke XX hanya ada dua perusahaan besar yang beroperasi di Hindia Belanda yaitu, De Koninklijke dan Shell Transport & Tranding Company (Shell).
Kemudian De Koninklijke, milik Pemerintah Belanda, bergabung dengan Shell (Inggeris) pada tahun 1907 dan dari penggabungan kedua perusahaan minyak raksasa itu lahirlah perusahaan minyak De Koninklijke Shell Group atau dalam bahasa Inggerisnya dikenal dengan sebutan Royal Dutch Shell yang merupakan satu – satunya perusahaan minyak kaliber dunia yang melakukan penambangan minyak di Indonesia. Dalam menjalankan usahanya perusahaan ini memperoleh dukungan sepenuhnya dari Pemerintah Hindia Belanda yang berada di bumi Nusantara.
Dalam menjalankan usaha industri perminyakan Royal Dutch Shell membentuk tiga perusahaan pelaksana atau operating company, yaitu De Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM) yang bergerak dalam kegiatan eksplorasi, produksi dan pengolahan. Asiatic Petroleum bergerak dalam usaha pemasaran dan Anglo Saxon Petroleum Company khusus menangani masalah pengangkutan minyak.
Sejak terbentuknya Royal Dutch Shell, semua daerah konsesi De Koninklijke dan Shell dilaksanakan oleh BPM termasuk di Langkat dan Aceh Timur yang kini dikenal sebagai wilayah kerja PT Pertamina EP Region Sumatera.
Sementara itu Pertamina Lapangan EP ( Eksplorasi & Produksi ) Pangkalan Susu yang berdasarkan SK Direksi No. KPTS – 070 / C0000 / 94-S8 tanggal 11 Mei l994 telah diganti sebutannya menjadi Asset Pangkalan Susu adalah merupakan salah satu dari dua wilayah operasional Pertamina DOH NAD – Sumbagut, yaitu Asset Rantau, berkedudukan di Rantau, Aceh Timur dan Asset Pangkalan Susu berkedudukan di Pangkalan Susu, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara.
Asset Pangkalan Susu kemudian diganti namanya menjadi Area Pangkalan Susu yang kini dikenal dengan sebutan Field (Lapangan) Pangkalan Susu berada sekitar 110 km sebelah Barat Laut kota Medan atau sekitar 24 km arah Barat kota Pangkalan Berandan adalah merupakan lapangan minyak dan gas bumi tertua dalam catatan sejarah Pertambangan dan Industri Perminyakan Indonesia, yaitu sejak struktur Telaga Said ditemukan pada tanggal 31 Juli 1876 oleh Aeilko Janszoon Zijlker, ahli perkebunan tembakau ” Deli Tobacco Maatschappij ” yang berkebangsaan Belanda itu. Setelah memperoleh konsesi dari Sultan Langkat ( Musa ) pada tanggal 8 Agustus 1883, Zijlker yang telah menghimpun dana dari beberapa temannya di Negeri Kincir Angin itu, segera melaksanakan pengeboran sumur minyak pertama di Telaga Tiga.
Upaya yang dilakukan Zijlker dkk. Pada tanggal 17 November 1884 di sumur Telaga Tiga struktur Telaga Said ternyata tidak membuahkan hasil seperti yang diharapkan walaupun pekerjaan pemboran itu sudah berjalan sekitar dua bulan.
Minyak yang diperoleh Zijlker dkk. hanya sebanyak 200 liter, sedangkan semburan gas dari sumur Telaga Tiga cukup besar, sehingga harapan untuk memperoleh minyak dalam jumlah yang lebih besar jadi sirna.
Namun demikian hal itu tidak membuat Zijlker dkk. putus asa. Mereka mengalihkan kegiatannya ke arah Timur daerah konsesinya yang berbatas dari pesisir pantai Sungai Lepan, Bukit Sentang sampai ke Bukit Tinggi sekitar 16 km sebelah Selatan kota Pangkalan Berandan.
Pengeboran kedua sedikit mengalami kesulitan karena struktur tanah di lokasi Telaga Said lebih keras bila dibandingkan dengan struktur tanah di lokasi Telaga Tiga. Akan tetapi hal itu bukan merupakan suatu hambatan bagi Zijlker dkk untuk meneruskan pengeboran di sumur Telaga Tunggal yang akhirnya mulai menampakkan hasil yang agak menggembirakan. Ini terbukti ketika pengeboran mencapai kedalaman sekitar 22 meter telah diperoleh minyak sebanyak l710 liter hanya dalam waktu 48 jam kerja. Ketika pengeboran mencapai kedalaman 31 meter, minyak yang dihasilkan telah mencapai sekitar 86.402 liter.
Berkat kegigihan dari Zijlker dkk yang telah mengeluarkan cukup banyak dana dalam usaha pepengeboran itu, akhirnya suatu hari bersejarah dalam catatan tinta emas sejarah pertambangan minyak di Hindia Belanda (Indonesia) terjadi pada tanggal 15 Juni 1885, ketika pengeboran mencapai kedalaman 121 meter, tiba – tiba muncul semburan kuat dari gas, air bercampur minyak mentah melalui lubang sumur Telaga Tunggal I sehingga pengeboran lanjutan di sumur itu terpaksa dihentikan.

Sumur Telaga Tunggal – I kemudian dinyatakan sebagai sumur minyak yang pertama di Hindia Belanda yang memiliki tarap produksi komersial selama lebih dari lima belas tahun dengan tingkat produksi mencapai sekitar l80 barel per hari.
Keberhasilan di Telaga Tunggal – I telah menimbulkan semangat Zijlker cs untuk melakukan pengeboran berikutnya di kawasan struktur Telaga Said dan sekitarnya yang jumlahnya telah mencapai ratusan sumur.
Memasuki tahun 1926, NV. Koninklijke Nederlandsche Maatschappijtot Exploitatie van Petroleum Brownen In Nederlandsche Indie (Royal Dutch Company) yang telah bergabung dengan Shell Transport & Tranding Company pada tanggal 24 Februari 1907 dalam wadah The Koninklijke Shell Group atau yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan SHELL, melalui anak perusahaannya yang bernama Bataafsche Petroleum Maatschappij ( BPM ) terus melaksanakan usaha pengeboran yang dikembangkan mulai dari struktur Telaga Said sampai ke struktur Arubay di pesisir Teluk Haru, Pangkalan Susu dan struktur Rantau di Aceh Timur. Secara berturut-turut perusahaan minyak gabungan Belanda dan Inggris itu telah menemukan beberapa struktur baru yang diantaranya struktur Telaga Darat (1884), Telaga Said (1885), Kepala Gajah (1900), Bukit Sentang (1927), Arubay (1927), Pulau Panjang (1928), Gebang (1936) dan struktur Paluh Tabuhan Timur (1937).
Sementara sejak Indonesia memproklamirkan Kemerdekaannya, Pertamina dan mitra usahanya (Nosodeco) melalui Kontrak Production Sharing yang pertama di Indonesia telah berhasil mengembangkan struktur Paluh Tabuhan Timur dengan membor sebanyak l5 sumur dan menghasilkan sekitar 253.600 m3 minyak mentah pertahun (1961-1962).
Dengan keberhasilan tersebut, Pertamina jadi bertambah giat untuk menemukan cadangan minyak yang baru seperti di struktur Paluh Tabuhan Barat (1970-MOI ), Wampu, bekas BPM l950 (l972), Diski (1973), Batu Mandi (1973), Besitang (1977), Securai (1981), Polonia (1983), Pantai Pakam Timur (1984), Sungai Buluh (1984), Pulau Sembilan (1985), Tungkam (1988), Pulau Rawa (1980), Paluh Sipat (1993) dan Paluh Sane (1994).
Sampai dengan tahun 2006 telah dibor sebanyak 990 sumur di wilayah kerja PT Pertamina EP Field Pangkalan Susu yang tersebar di 37 struktur tercatat sebanyak 87 sumur yang berproduksi, dan sisanya dalam status ditangguhkan.
Sementara wilayah kerja PT Pertamina EP Field Pangkalan Susu di Provinsi Sumatera Utara tercatat seluas sekitar 14.211,74 Km2, termasuk di dalamnya wilayah Kabupaten Langkat yang dikuasai oleh Pertamina ada seluas 8.377.586,37 m2 sisanya berada di Kabupaten Deli Serdang, Kawasan Kota Binjai dan Kota Medan.
Cadangan migas Field Pangkalan Susu berada di dalam cekungan Sumatera Utara. Cekungan ini merupakan cekungan Tersier yang di belahan Timur Laut dibatasi Paparan Sunda, di sebelah Selatan dibatasi Busur Asahan dan di sebelah Barat Daya dibatasi Pegunungan Bukit Barisan.
Di cekungan Sumatera Utara terdapat akumulasi minyak dan gas bumi seperti yang telah diproduksi di Field Pangkalan Susu, Field Rantau, Lapangan Arun dan sebagainya.
Menurut data Topographi menyebutkan bahwa proses pembentukan cekungan Sumatera Utara terjadi setelah terjadinya gerakan tektonik pada akhir jaman Misosoikum atau sebelum berlangsungnya pengendapan sedimen Tersier.
Gerakan-gerakan konvergern terjadi pada akhir tersier dan menghasilkan bentuk cekungan bulat memanjang dan berarah ke Barat Laut Tenggara.
Proses pengendapan sedimen yang terjadi selama Tersier, secara umum dimulai dengan transgresi dan disusul regresi setelah berada pada kedalaman maksimum tercapai. Kemudian disusul pula dengan adanya gerakan – gerakan tektonik berupa gerakan konvergern serong pada akhir tersier sebagai bagian dari gerakan tektonik regional pada masa itu.
Pada cekungan Sumatera Utara terdapat dua pola struktur, yaitu jaman Pra Tersier dan Tersier Atas ( Plio Plestosen ), pola strukturnya sama dengan pola struktur umum yang terdapat pada cekungan-cekungan di sepanjang back arc Pulau Sumatera.
Dalam cekungan Sumatera Utara terdapat pula sedimen dari endapan darat, transisi dan laut dalam yang terjadi melalui proses transgresi.
Proses transgresi telah membentuk endapan-endapan batuan klastik berbutir kasar dan halus, batuan lempung hitam, napal, batuan lempung, gamping dan serpih, semuanya diendapkan dan terletak tidak selaras di atas batuan Pra-Tersier.
Stratigrafi
Berbicara mengenai stratigrafi dapat dijelaskan sebagai berikut :
Terjadi endapan cekungan Sumatera Utara dimulai pada Oligosen-Awal, berupa batuan sedimen klastik kasar di atas batuan pratesier yang disebut juga sebagai formasi Prapat. Sedangkan di atas formasi Prapat mengendap batuan lempung hitam yang yang kemudian disebut sebagai formasi Bampo.
Sementara ketika trasgresi laut mencapai puncak dan berhenti pada Miosen Awal, pengendapan batuan napal yang banyak mengandung foraminitera planktonik disebut sebagai formasi Peutu.
Sedangkan di bagian Timur cekungan formasi Peutu terdapat endapan formasi Belumai yang berkembang menjadi dua facies sedimen klasik dan karbonat.
Proses pengendapan itu terus berlangsung sampai masa Miosen Tengah dengan pengendapan serpih dari formasi Baong yang di atasnya diendapan formasi Keutapang, Seureula dan formasi Julok Rayeuk yang merupakan type regresi.
Pada posisi tidak selaras, di atasnya diendapkan Tufa Toba dan Aluvial seperti yang tergambar dalam diagram Stratigraphi cekungan Sumatera Utara.
Dapat ditambahkan di sini bahwa minyak dan gas bumi yang terdapat di wilayah kerja Asset Pangkalan Susu dihasilkan dari lapisan batu pasir bagian tengah formasi Baong (MBS) dan lapisan pasir bagian bawah formasi Keutapang.
Sebagai gambaran dapat dijelaskan di sini bahwa formasi Baong pada umumnya berbutir pasir halus, masif, mengandung mineral glankonit, bersih dengan porositas sedang sampai baik. Sementara pada lapisan tipis, umumnya berbutir, lempungan, porositas jelek dan serpih.
Kelompok dari lapisan batu pasir bagian tengah formasi Baong di struktur Besitang dan Paluh Tabuhan Barat disebut sebagai Besitang River yang mampu menghasilkan minyak dan gas bumi.
Sementara formasi Keutapang diendapkan pada kondisi neritik dalam hingga marin dan merupakan zone produktif di struktur Gebang, Paluh Tabuhan Timur dan struktur Pulau Panjang.
Struktur Geologi
Setelah disampaikan secara selintas mengenai Stratigrafi, maka kini akan dipaparkan mengenai struktur geologi yang ada di wilayah kerja Pertamina Field Pangkalan Susu. Struktur geologi di daerah ini dicirikan oleh struktur antiklin dengan arah Barat Laut Tenggara. Sedangkan pada bagian Timur Laut berupa antiklin dengan sumbu terletak di pantai Selat Malaka dengan puncak di struktur Gebang dan Paluh Tabuhan Timur.
Sementara antiklin yang lain, ke arah Barat Daya, yaitu antiklin panjang dengan puncak di struktur Securai dan Pulau Panjang. Sedangkan yang mengarah di atas Barat Daya adalah antiklin Tabuhan Barat dengan puncaknya di struktur Paluh Tabuhan Barat dan antiklin dengan puncak di struktur Besitang.
Sesar berupa sesar normal dan sesar naik di daerah ini. Sesar normal biasanya sejajar dengan sumbu lipatan tetapi ada beberapa mengarah Timur Barat dan Utara Selatan. Sesar naik seperti pada bagian Timur Laut Besitang diperkirakan berasosiasi dengan serpih diapir.
Intrusi serpih merupakan hal yang biasa dalam cekungan Sumatera Utara. Serpih dari formasi keutapang. Sering antiklin berasosiasi intrusi dan serpih tersebut diperkirakan merupakan media migrasi dari hidrokarbon dari batuan asal dalam serpih formasi Baong ke dalam formasi Keutapang.
Adanya lipatan-lipatan dan diapir seperti tersebut di atas kemungkinan ada kaitannya dengan Block Faulting di batuan dasarnya yang dapat diidentifikasikan sebagai mekanisme utama cekungan Sumatera Utara.
Seperti telah dijelaskan pada lembaran sebelumnya bahwa sejak tahun 1884 sampai tahun 1998 untuk wilayah kerja Field Pangkalan Susu sudah dikerjakan sebanyak 37 struktur hidrokarbon yang terdapat di Kabupaten Langkat (struktur Gebang, Paluh Tabuhan Barat, Paluh Tabuhan Timur, Pulau Panjang dll) dan Deli Serdang (struktur Hamparan Perak) serta di sekitar kawasan Kota Binjai (struktur Wampu) dan Kota Medan (struktur Polonia ).
Sebagai salah satu lapangan eksplorasi dan produksi di wilayah operasional PT Pertamina EP Region Sumatera yang berkedudukan di Prabumulih, Pertamina EP Field Pangkalan Susu mempunyai andil yang besar dalam mempertahankan keberadaan Pertamina EP di Sumatera Utara, khususnya dalam hal pengadaan minyak dan gas bumi – walaupun dewasa ini produksi migas telah menurun akibat faktor alami karena sebagian besar ladang migas telah berusia lanjut (brown field),- teristimewa mengenai pemasukan PAD bagi Pemkab Langkat dan Sumatera Utara yang cukup besar baik dari PAD migas maupun pajak PPH dan PPN. Milyaran rupiah telah distorkan Pertamina EP kepada Pemda setempat. Contoh untuk 2007 telah distor pajak PPH dan PPN sebesar Rp 35.580.508.150,- dan untuk tahun 2008 (periode Januari – September) tercatat sebesar Rp 32.907.430.839,- melebihi storan pada priode yang sama di tahun 2007 yang tercatat hanya sebesar Rp 16.082.810.902,-
Sementara untuk kelancaran pengiriman minyak dan gas bumi dari sumur – sumur migas yang bertebaran di struktur-struktur produktif sampai ke Tank Meter dan tempat penampungan di Tank Yard, Bukit Khayangan, Pangkalan Susu yang nantinya akan disalurkan ke kilang BBM UP-I Pangkalan Berandan dan kilang lainnya, termasuk pengiriman gas untuk PLN, PGN dan sebagainya, di Field Pangkalan Susu terdapat sebanyak 6 (enam) Stasiun Pengumpul/ Stasiun Kompressor (SP/SK) yang dilengkapi dengan 32 unit kompressor dari berbagai jenis dan ukuran. Dari jumlah tersebut tercatat hanya 6 unit yang beroperasi (data PML bulan Oktober 2008). Kompressor-kompressor tersebut dipergunakan untuk melayani pasokan migas dari struktur-struktur yang ada di Field Rantau, Aceh Tamiang dan dari struktur yang ada di Field Pangkalan Susu untuk disimpan di Tank Yard, Bukit Khayangan, Pangkalan Susu atau langsung dikirim atau dikapalkan ke kilang BBM di Cilacap atau ke Lawi-lawi Balikpapan dengan mempergunakan kapal tanker melalui SBM ( Single Bouy Mooring ) yang berada sekitar 31 km di lepas pantai Teluk Aru, Pangkalan Susu dekat perairan Selat Malaka.
Sebagai informasi tambahan dapat dijelaskan di sini bahwa Pelabuhan Minyak Pangkalan Susu yang dibangun oleh Belanda pada tahun 1898 adalah merupakan pelabuhan pengekspor minyak yang pertama dan tertua di Indonesia yang perairannya tidak dapat dimasuki oleh Tanker berukuran besar, maka dibangun Single Bouy Mooring di lepas pantai Teluk Haru, Kecamatan Pangkalan Susu, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, yang miniaturnya dapat dilihat dalam bentuk Tugu di tepi jalan raya lintas Sumatera, tepatnya di Simpang Tiga Pangkalan Susu, Desa Lubuk Kasih, Kecamatan Berandan Barat, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara yang merupakan satu-satunya jalan masuk ke kota Pangkalan Susu (Pusat Perkantoran PT Pertamina EP Field Pangkalan Susu).
Berbicara mengenai lindungan lingkungan, tetap menjadi prioritas utama Pertamina untuk menanganinya secara serius, dan ini memang sudah menjadi komitmen Pertamina sejak dibentuknya Badan Koordinator Lindungan Lingkungan (BKLL) pada tanggal 7 Juni 1973. Pembentukan BKLL dapat juga diartikan sebagai deklarasi komitmen kegiatan industri perminyakan nasional.
Sedangkan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman para pekerja dan pekarya termasuk mitra kerja dan mitra usaha tentang arti pentingnya lindungan lingkungan, maka secara berkala Pertamina memberi kesempatan kepada insan perminyakan untuk mengikuti program pelatihan dan kursus termasuk yang menyangkut dengan masalah kesehatan dan keselamatan kerja serta pelatihan teknik untuk memadamkan api kebakaran ( Fire Fighting Technique ), exploisidemo dan sebagainya. Selain itu juga disediakan tempat praktek dan pelatihan usaha penanggulangan dan pemadaman api kebakaran di Fire Training Ground, Pangkalan Susu.
Tegasnya, masalah lindungan lingkungan, kesehatan dan keselamatan kerja sudah sejak dulu diterapkan di semua fungsi operasional Pertamina.
Sebagai contoh telah diterapkannya upaya penyelamatan lindungan lingkungan serta keselamatan kerja di setiap lokasi pengeboran sumur minyak dan gas bumi juga tersedia tempat penampungan khusus untuk lumpur limbah pengeboran dan sisa-sisa tumpahan minyak dari peralatan bor dan sebagainya. Selain itu juga dilengkapi dengan peralatan pemadam api kebakaran dan alat pendeteksi kebocoran gas.
Sementara untuk mengantisipasi bahaya kebakaran di kompleks perkantoran dan perumahan karyawan termasuk kebakaran di lokasi sumur-sumur migas serta kebakaran di lingkungan pemukiman warga masyarakat, Pertamina EP Field Pangkalan Susu juga menyediakan beberapa unit mobil pemadam kebakaran yang bermarkas di Kantor KK/LL Pangkalan Susu. “ Tidak bekerja lebih baik dari pada bekerja ” artinya, kalau bekerja pasti ada musibah. Itulah semboyan bagi petugas Pemadam Api Kebakaran di Field Pangkalan Susu.
Sebagai Badan Usaha Milik Negara yang bergerak di bidang pertambangan minyak dan gas bumi, terbaik kedua di Asean, Pertamina dalam melaksanakan kegiatan eksplorasi sumber daya migas pada umumnya dilakukan di daerah rawa-rawa pasang surut, sehingga mau tidak mau, peran kendaraan alat-alat berat seperti bulldozer, payloader, grader, dump truck, beko, trado, scanner dan scammel memang sangat dibutuhkan ketika membuka lokasi pengeboran baru.
Untuk merawat alat-alat berat dan kendaraan tersebut termasuk perawatan serta perbaikan mesin-mesin lainnya, di Field Pangkalan Susu juga tersedia bengkel mekanik yang juga dilengkapi dengan mesin bubut dan sebagainya.
Sedangkan untuk melaksanakan pengeboran sumur migas yang berada di seberang daratan Pangkalan Susu seperti di Pulau Panjang dan sekitarnya, di Field Pangkalan Susu juga tersedia satu unit kapal pendarat, tugboat dan beberapa unit speedboat.
Sementara untuk mendukung kelancaran operasional dan komunikasi antar fungsi antar daerah operasi, antar pekerja / pekarya yang bertugas di lokasi pengeboran maupun di SP/SK, di Field Pangkalan Susu juga tersedia sarana dan fasilitas telekomunikasi misalnya, Radio Multi & Single Channel, Base Repeater, Handy Talky, Two Way Radio, Central PABX, Perangkat jaringan internal, Saluran telepon PT Telkom, dan LAN (Local Area Network).
Tower IT Pertamina EP Pangkalansusu Menara TI PT Pertamina EP Pangkalansusu (warna merah putih) penulis abadikan dari helikopter pada tahun 2006.
Sebagai perusahaan vital milik Negara yang sampai saat ini masih diandalkan sebagai tulang punggung pengadaan PAD (Pendapatan Asli Daerah) dan masukan devisa bagi Negara termasuk sebagai pemasok BBM dan gas bagi masyarakat, maka stamina dan kebugaran para pekerja serta pekarya di lingkungan PT Pertamina EP Field Pangkalan Susu harus tetap berada dalam kondisi prima.
Untuk tujuan dimaksud selain Poliklinik yang terbuka untuk umum, di Field Pangkalan Susu juga terdapat Stadion Olahraga (anno 1974) di Bukit Kunci yang terlengkap di Sumatera Utara dan bahkan stadion ini pernah beberapa kali dimanfaatkan untuk kompetisi sepak bola tingkat daerah dan nasional.
Selain lapangan sepak bola dan atletik, di sekitar Stadion Olahraga Bukit Kunci juga terdapat beberapa lapangan Tennis, Bola basket, Volly, Bulu Tangkis dan lapangan Golf mini juga terdapat satu gedung Pertemuan Petro Ria Bukit Kunci dan Guest House di Bukit Khayangan, Pangkalan Susu.
Sementara untuk meningkatkan mutu sumber daya manusia, Fungsi SDM PT Pertamina EP Field Pangkalan Susu secara berkesinambungan mengirim para pekerja ( pegawai Pertamina ) untuk mengikuti kursus dan pelatihan berbagai disiplin ilmu diantaranya tentang Selection and Maintenance of Electrical Transformer, Cost Accounting, Corrosion & Cathodic Protection, Network & Traffict Management, Well Completion and Work over, Public Relations Strategies, Centrifugal Pump Operation and Maintenance, Budgeting & Cost Control dan sebagainya. Untuk tahun 2008 (Januari – September) tercatat sudah sebanyak 60 kali para pekerja mengikuti kursus/pelatihan di Palembang, Prabumulih, Jakarta, Yogyakarta, Bandung dan Semarang.
Selain pelaksanaan program peningkatan mutu sumber daya manusia bagi para pekerja Pertamina, Fungsi SDM juga memberi kesempatan kepada para mahasiswa, pelajar SLTA dan sederjat untuk melaksanakan PKL di fungsi-fungsi terkait. Untuk tahun 2008 tercatat sebanyak 88 pelajar dan mahasiswa yang mengikuti PKL diantaranya dari ITB, ITS, Politeknik Negeri Jakarta, UISU, ITM, UMI, IAIN, UMSU, STM YPT Pangkalan Brandan, STM Binjai dan SMEA Pangkalan Susu.
Sejalan dengan diterbitkannya Undang-undang No. 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi tanggal 23 November 2001 dan diberlakukannya Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 31 Tahun 2003 tentang Pengalihan Bentuk Perusahaan Pertamina Menjadi Perusahaan Perseroan (PERSERO) pada tanggal 18 Juni 2003, maka melalui Akta Notaris Lenny Janis Ishak, SH tanggal 17 September 2003, Pertamina telah resmi berubah statusnya dari BUMN menjadi Perusahaan Perseroan PT PERTAMINA (PERSERO).
Perubahan logo Pertamina dan maknanya
Pemikiran untuk melakukan perubahan logo Pertamina sebenarnya sudah muncul pada tahun 1976, tapi perubahan itu tidak dapat dilakukan secara terburu-buru. Banyak tantangan dan perbedaan pendapat tentang wacana untuk merobah logo Pertamina.
Pertentangan mengenai gagasan untuk merobah logo Pertamina memang harus dimaklumi karena logo Pertamina yang sudah kita kenal sejak tahun 1968 mempunyai ikatan emosional ketika Pertamina dikukuhkan melalui Undang-undang No.8 Tahun 1971, logo yang dibentuk pada tahun 1968 juga ikut dikukuhkan melalui SK Direksi No.914/Kpts/DR/DU/1972.
Ketika program restrukturisasi digulirkan pada tahun 1994, masyarakat belum menyadari bahwa Pertamina mulai melakukan perobahan secara bertahap hingga pada 17 September 2003 BUMN itu beralih menjadi perusahaan Perseroan. Perubahan masih terus bergulir.
Selama 37 tahun kita mengenal logo sepasang Kuda Laut mengapit bintang lima sebagai identitas Pertamina. Logo tersebut begitu akrab dan mudah dilihat di mana-mana, misalnya di SPBU dan mobil tangki minyak dan elpiji yang berlalu-lalang sampai ke pelosok daerah.
Kini logo sepasang “ Kuda Laut ” sudah diganti dengan logo Pertamina baru berbentuk hurup P yang secara keseluruhan merupakan representasi berbentuk panah dengan tiga warna, yaitu merah, biru dan hijau.
Hak cipta logo baru Pertamina sudah didaftarkan dan disetujui oleh Direktorat Hak Cipta, Desain Industri, Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu & Rahasia Dagang, Departemen Hukum dan HAM dengan Surat Pendaftaran Ciptaan No.028344 tanggal 10 Oktober 2005.
Genap dua tahun Pertamina beralih dari BUMN menjadi perusahaan Perseroan Terbatas (PT) pada 17 September 2003 sebagai menyahuti isi kandungan dari Undang-undang No.22 Tahun 2001 tentang Perusahaan Pertambangan Minyak dan Gas Bumi Negara (PERTAMINA), maka pada 17 September 2005 PT Pertamina (Persero) selaku Holding Company telah mendirikan sub holding bernama PT Pertamina EP yang dipimpin oleh Direktur Utama, Kun Kurnely.
Terhitung sejak ditandatanganinya Kontrak Kerja Sama (KKS) antara BP Migas dengan PT Pertamina (Persero) dan PT Pertamina EP pada 17 September 2005, maka seluruh bekas WKP ( Wilayah Kuasa Pertambangan ) Pertamina, di luar blok Cepu dan Randugunting, beralih pengelolaannya kepada PT Pertamina EP. Khusus untuk WKP Pertamina di Pulau Sumatera dikelola oleh PT Pertamina EP Region Sumatera.
Sementara sesuai Surat Keputusan Direktur Utama PT Pertamina EP No.Kpts P-020/ EP0000/2006-S8 tanggal 13 Januari 2006, maka terhitung sejak 07 Februari 2006, PT Pertamina EP Region Sumatera telah terbentuk dan dipimpin oleh seorang Vice President, Setyoko Misman (vice president pertama) yang membawahi 6 (enam) area operasi, yaitu Area Rantau, Area Pangkalan Susu, Area Jambi, Area Lirik, Area Prabumulih, dan Area Pendopo yang masing-masing dipimpin oleh Manajer Area (kemudian sebutannya diganti menjadi Field Manager), serta 2 (dua) Unit Bisnis, yaitu Pertamina EP (Jambi) dan Pertamina EP (Limau) dipimpin oleh General Manager.
Dengan adanya SK Dirut Pertamina EP di atas, maka secara adminitrasi DOH NAD – Sumbagut telah dibagi menjadi 2 (dua) Field, yaitu Field Rantau untuk wilayah Nanggroe Aceh Darussalam dan Field Pangkalan Susu untuk wilayah Sumatera Utara. Masing-masing Field berhubungan langsung dengan Kantor Pusat Region Sumatera di Prabumulih – Sumatera Selatan.

sumber :http://freddyilhamsyah.wordpress.com/2011/02/15/mengenal-keberadaan-pt-pertamina-ep-pangkalan-susu/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar